Faisal Djabbar ,Seorang Pembelajar dan Anggota Komite Audit Dewan Komisaris PT Bank Sulselbar
Suatu kali, saat menjabat Menteri Negara Pendayagunaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Tanri Abeng (lahir 1942) menghadap Presiden Soeharto. Ketika itu, medio 1998, Tanri Abeng ingin menyodorkan Master Plan Pengembangan BUMN. Sebelum menyerahkan, beliau paparkan secara singkat rencana induk pengembangan BUMN tersebut. Soeharto tersenyum. Sambil menerima dan menutup map yang berisi Rencana Induk itu, Soeharto memasukkan map ke dalam laci (Tanri Abeng, No Regrets, 2012).
Soeharto kemudian meminta Tanri Abeng meminum teh yang telah dihidangkan. Maksud Soeharto, usai minum teh, Tanri Abeng segera meninggalkan ruangan. Pulang. Tapi, sang Menteri tetap di tempat duduknya. Dia malah makin kencang. Selain mengajukan Master Plan Pengembangan BUMN, sang Menteri mendesak pergantian Direksi Garuda Indonesia. Hal ini lantaran Garuda Indonesia mengalami kebangkrutan. Pendeknya, Tanri Abeng kukuh pada kehendak yang menurutnya benar.
Esok harinya, sang Menteri mendapatkan kiriman buku berjudul Budaya Jawa. Para sahabatnya mengatakan, dengan nada keras, untung beliau bukan orang Jawa. Entah apa maknanya.
Berjalan waktu, masih sebagai Menteri Negara Pendayagunaan BUMN, Tanri Abeng berhadapan dengan sekitar 200 orang demonstran. Mereka mengerumuni Kantor Kementerian BUMN. Para demonstran mengatasnamakan warga di sekitar pabrik Krakatau Steel, Cilegon, Banten. Mereka mengenakan sorban dengan tampang terlihat marah. Pasal kemarahan pendemo didasari berita adanya masjid yang akan diubah menjadi gereja. Pimpinan demonstran berhasil naik ke kantor sang Menteri. Mereka menyerukan pertanyaan, kenapa Krakatau Steel dijual ke investor India, lalu masjid akan digusur dan dibangun gereja.
Tanri Abeng bilang ke pendemo, dirinya orang Bugis-Makassar. Mana bisa dia mempertaruhkan kredibilitas Krakatau Steel dengan mempertentangkan agama dengan isu lain. Tanri Abeng berkata, dirinya merupakan keturunan keluarga Syech Yusuf Al-Makassari yang berjuang di Banten, sehingga tidak mungkin pula dirinya memperkeruh kondisi keagamaan bangsa yang sudah teduh. Syech Yusuf berasal dari bangsawan Gowa dan mempunyai pertalian kerabat dengan raja-raja Banten.
Sang Menteri menyatakan ke pendemo, dirinya tidak punya kepentingan pribadi. Beliau, katanya, diberi tugas menyelamatkan bangsa dari krisis melalui kewenangannya sebagai Menteri BUMN. Dalam melaksanakan tugas, beliau fokus bagaimana agar dirinya berhasil menjalankan monumental tasks dan berbuat sesuatu bagi negara.
Dua cerita singkat di atas setidaknya menggambarkan secara lekas sikap berani dan tegas seorang Tanri Abeng. Kondisi internal ini mungkin berasal dari pengalaman hidup di masa kecil dan remajanya. Kedua orangtua Tanri Abeng berprofesi sebagai petani, yang meninggal dunia saat dirinya masih kanak-kanak. Sejak usia 10 tahun, beliau berjuang hidup. Di Makassar, dia menumpang hidup dengan paman dan saudara sepupunya. Sambil sekolah, di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) dilanjutkan ke Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA), beliau berjualan pisang goreng. Hidup susah menempa dirinya.
Lebih jauh, keberanian Tanri Abeng bersumber dari prinsip profesionalitasnya dalam mengelola (manajemen) organisasi. Untuk menjadi profesional, ujarnya, seseorang harus mampu menunjukkan nilai moral yang teruji. Menjadi profesional berarti menjadi orang bermoral.
Manajemen profesional, ungkapnya, berarti membentuk manusia berperilaku baik: tidak boleh mencuri aset perusahaan, bekerja dengan tekun, disiplin, dan apabila tidak mempunyai kompetensi akan digeser. Dengan mekanisme begitu, Tanri Abeng percaya budaya perusahaan dengan sendirinya akan terbangun kuat.
Profesionalitas, lanjut Tanri Abeng (No Regrets, 2012), bukan bersumber dari adanya kewenangan jabatan dan posisi. Profesionalitas terletak pada kualitas fungsional seseorang. Jabatan dan posisi dapat dibeli, tetapi profesionalitas tidak. Hal ini karena profesionalitas berkaitan dengan kompetensi, kredibilitas, dan integritas pribadi.
Profesional adalah seorang pekerja yang mempunyai dua elemen yang melekat dalam dirinya: pengetahuan dan keterampilan. Itulah yang tidak dapat dibeli. Seorang profesional harus mempunyai otonomi (moral). Dia tidak dapat dikendalikan, diawasi, atau diarahkan. Dia harus tertutup, karena pengetahuan dan penilaiannya harus dipercayakan kepada keputusan.
Seorang profesional tidak tunduk pada kendali politik atau ideologi yang merusak kehidupan bersama atau merugikan tata masyarakat. Definisi dasar dan wajib bagi profesional adalah tidak melakukan apa yang dia ketahui itu salah. Hal ini termuat dalam buku Tanri Abeng, yang ditulis bersama Riant Nugroho, berjudul Manajemen sebagai Profesi, terbitan 2024.
Dalam bukunya tersebut di atas, Tanri Abeng berkisah. Beliau punya sahabat bernama Kishore Mahbubani, yang saat ini merupakan Distinguished Fellow di Asia Research Institute, National University of Singapore. Mahbubani menjelaskan bahwa resep sukses pertama keberhasilan Singapura ialah menerapkan meritokrasi. Mereka yang naik adalah yang terbaik.
Lalu, yang kedua yakni pragmatisme. Singapura mempelajari praktik-praktik baik (best practices) tata kelola pemerintahan dan perusahaan dari seluruh dunia. Juga, membangun manajemen pengetahuan (knowledge management) yang dapat diperbandingkan dan diterapkan.
Selanjutnya, yang ketiga adalah kejujuran. Tanpa kejujuran, ujar Kishore Mahbubani, tidak akan ada meritokrasi. Dengan kejujuran, pengelolaan negara dan perusahaan tak akan bisa dibajak menjadi kesewenang-wenangan, penyelewengan, dan korupsi. Kejujuran merupakan bahan baku integritas. Dan, integritas menjadi sumber kepercayaan.
Namun, integritas harus paralel dengan pengetahuan. Integritas tanpa pengetahuan tidak akan efektif, sedangkan pengetahuan tanpa integritas amat berbahaya (Wankel dan Agata, 2011, dikutip dari Tanri Abeng dan Riant Nugroho, Manajemen sebagai Profesi, 2024). Integritas merupakan penentu manajemen agar manajemen tidak semata menjadi bungkus tirani.
Saat memilih pengganti Direktur Utama Garuda Indonesia yang sedang mengalami kebangkrutan pada medio 1998, Tanri Abeng, dalam kapasitasnya sebagai Menteri Negara Pendayagunaan BUMN, membuat tiga kriteria bagi calon Direktur Utama. Ketika itu, Garuda Indonesia mengalami kerugian USD 1,8 miliar yang ditutup dengan utang dan secara bersamaan ekuitasnya negatif USD 300 juta.
Pertama, calon Direktur Utama Garuda Indonesia harus orang yang paham keuangan dan perbankan. Kapasitas ini agar dia bisa berkomunikasi dengan para kreditur atau seorang banker kaliber internasional. Garuda Indonesia, kata Tanri Abeng, tidak hanya butuh seorang negosiator, melainkan orang yang bisa memenangkan negosiasi.
Kedua, dia haruslah orang yang tegas dan berani. Untuk melakukan transformasi di Garuda Indonesia ketika itu diperlukan Direktur Utama yang tegas dan berani. Tanpa kualitas tersebut, Garuda Indonesia akan sulit berubah ke arah yang diharapkan.
Berani, dalam hal ini, bukan sekadar berani, tetapi penuh pertimbangan matang sekaligus luwes. Pengalaman Tanri Abeng mengatakan bahwa dalam keberanian terdapat keluwesan, kesantunan, namun juga ada kesungguhan. Keberanian sejati, tulis Tanri Abeng, adalah keberanian dengan ketulusan untuk memberikan kebaikan sejati kepada orang lain, organisasi, serta bangsa dan negara. Jadi, keberanian bukan karena kepentingan pribadi.
Ketiga, dia harus memiliki integritas yang tidak bisa diragukan lagi. Untuk memilih orang, anda harus “kenal” orangnya. Ketahuilah pilihan anda. Pemilihannya tidak sekadar melalui curriculum vitae yang disodorkan dan mewawancarainya. Anda harus tahu persis siapa sang calon. Ketiga kriteria itu, menurut Tanri Abeng, dimiliki oleh Robby Djohan.
Robby Djohan adalah pembangun Bank Niaga, yang sekarang sudah melebur menjadi Bank CIMB Niaga. Robby Djohan sempat pula ditugaskan mengawal penggabungan empat bank pelat merah, yakni Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia, dan Bank Pembangunan Indonesia, menjadi Bank Mandiri. Beliau, dengan penunjukkan Tanri Abeng, ditugasi menangani krisis di BUMN Garuda Indonesia, ketika pada 1998 perusahaan tersebut terancam bangkrut.
Akhir kata, di tengah penghormatan orang atas keberhasilannya sebagai pemimpin dan manajer profesional, Tanri Abeng pun mengakui pernah membuat keputusan salah, terutama saat dirinya menjadi manajer di usia muda. Tetapi, baginya, membuat keputusan salah merupakan bagian dari proses pembelajaran. Salah sekali-sekali tidak apa-apa, tuturnya, asalkan tidak diulang kembali. No excuse, no regrets.
News Sulsel Mengungkap Fakta Berita