Beberapa Kekeliruan Berpikir

Faisal Djabbar , Seorang Pembelajar dan Pemerhati Kebijakan Publik

NEWSSULSEL.id

Tindakan yang benar bermula dari cara berpikir yang benar pula, setidaknya secara logis formal. Sebaliknya, tindakan keliru bersumber dari kekeliruan berpikir yang akut.

 

Oleh sebab itu, perlulah kita mengetahui bagaimana saja kekeliruan berpikir itu, sehingga dapat bertindak tepat.

 

Di bawah ini disampaikan pelbagai kekeliruan berpikir (intellectual cul de sacs), diantaranya generalisasi tergesa-gesa, determinisme historis, sesudahnya-maka-demikian, penalaran melingkar, menyalahkan pribadi, dan menuding kelompok.

 

Satu, generalisasi tergesa-gesa atau over-generalisation. Kekeliruan berpikir yang disebut generalisasi tergesa-gesa, atau lazim dikatakan fallacy of dramatic instance, adalah suatu kekeliruan berpikir dimana ada kecenderungan penggunaan satu atau dua peristiwa pengalaman pribadi untuk menyatakan argumen yang bersifat umum atau general. Atau, kekeliruan ini dapat muncul karena seseorang atau suatu organisasi tidak memakai pengertian atau batasan yang tepat untuk menyatakan sesuatu.

 

Contoh sederhana sebagai berikut: Erlangga adalah alumni ITB. Fitrah adalah alumni ITB. Erlangga sudah punya anak. Jadi, Fitrah juga sudah punya anak, karena keduanya alumni ITB.

 

Contoh lain: sekitar 38 pegawai KPK mengundurkan diri sejak Januari sampai September 2020. Indonesia Corruption Watch (ICW) mengatakan pengunduran ini wajar karena kondisi kelembagaan tidak lagi seperti dahulu. Di sini terjadi kekeliruan logis karena mendasarkan beberapa kasus pengunduran diri untuk menyimpulkan sesuatu yang bersifat umum, yaitu kelembagaan yang berubah. Apalagi, tidak ada penjelasan apa yang dimaksud dengan kondisi kelembagaan yang tak lagi sama dengan dahulu.

 

Satu contoh lagi: salah satu unsur dari Pedoman Perilaku sebuah organisasi, yang merupakan bagian dari Nilai Integritas, adalah “tidak menunjukkan gaya hidup hedonisme sebagai bentuk empati kepada masyarakat terutama kepada sesama Insan Komisi”. Kekeliruan logis timbul karena Peraturan Kode Etik tersebut tidak mendefinisikan apa yang dikategorikan sebagai “gaya hidup hedonisme”. Akibatnya, tiap orang yang membacanya, menurut saya, akan memiliki penafsiran masing-masing yang bisa berbeda.

 

Ketika kita berbicara tentang hedonisme, kita berbincang soal teori-teori filsafat barat mengenai kesenangan dan kebahagiaan. Secara singkat, teori hedonisme terbagi dua. Satu, memperoleh kesenangan (pleasure). Dua, mendapatkan kebahagiaan (eudaimonia). Menurut Socrates, eudaimonia menyangkut sesuatu yang bersifat teleologis, yakni bertujuan memperoleh kehidupan yang lebih baik. Masih ada sejumlah teori lain tentang hedonisme, misalnya hedonisme utilitarian, hedonisme epikurian, dan sebagainya.

 

Jadi, organisasi itu seyogianya mendefinisikan dalam Kode Etiknya apa yang dimaksud dengan Hedonisme itu.

 

Dua, determinisme historis. Istilah ini hanya untuk menyebut kesalahan berpikir yang percaya bahwa sesuatu sudah ditentukan (determined) di masa lalu (historis).

 

Contoh, kemiskinan sudah ada sepanjang sejarah. Sejak dulu ada orang kaya dan orang miskin, sehingga mengapa kita harus repot menghilangkan kemiskinan. Padahal, kemiskinan tidak bisa dihilangkan, karena sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

 

Lalu, contoh lain, seseorang pernah mengatakan bahwa dia punya teman yang berdarah biru, keturunan raja. Oleh karenanya, kata orang itu, rekan keturunan raja itu pasti kaya dan mudah memperoleh jabatan. Ini jelas kekeliruan berpikir yang sangat kentara.

 

Tiga, sesudahnya-maka-karenanya. Dalam terma asing istilah ini dikenal dengan sebutan Latinnya post hoc ergo propter hoc. Post artinya sesudah; hoc artinya demikian; ergo artinya maka atau karena itu; propter artinya disebabkan; hoc artinya demikian. Jadi, ketika ada peristiwa yang terjadi dalam urutan temporal, kita mengatakan bahwa kejadian pertama adalah penyebab kejadian kedua. Ini kekeliruan logis karena menyatakan insiden awal merupakan sebab dari perkara kedua, dengan alasan semata bahwa peristiwa itu berada dalam rentetan waktu yang sama.

 

Contoh, satu pasangan suami-istri mengutarakan bahwa dulu saat mereka baru menikah, kehidupan mereka sangat sulit. Setelah lahir anak pertama, sang suami mendapatkan pekerjaan dengan gaji lebih tinggi dari sebelumnya. Walhasil, kehidupan mereka sejak lahirnya anak pertama menjadi lebih baik. Jadi, pasangan itu menganggap anak pertamanya membawa keberuntungan.

 

Deskripsi di atas adalah contoh post hoc ergo propter hoc. Kelahiran anak pertama barangkali hanya salah satu hal yang membuat pasangan suami-istri itu sukses. Masih ada hal-hal lain penyebab keberuntungan mereka, seperti kompetensi suami yang meningkat, suami bekerja keras, dukungan istri, dan sebagainya.

 

Empat, penalaran melingkar atau circular reasoning. Ini adalah bentuk kekeliruan berpikir yang meletakkan kesimpulan atau konklusi ke dalam premis, lalu memakai premis tadi untuk menunjukkan kesimpulan atau konklusinya.

 

Contoh: saya cinta kepada istri saya karena saya cinta dia. Dia bersimpati kepada orang lain karena ia bersimpati. Contoh lain: seseorang merdeka karena bertanggung jawab dan ia bertanggung jawab karena merdeka.

 

Lima, menyalahkan pribadi atau blaming personality. Bahasa latinnya adalah argumen ad hominen. Kekeliruan logis ini timbul ketika kebencian atas seseorang mengakibatkan orang yang membencinya mencela masalah pribadi seseorang itu, bukan pada masalah yang sebenarnya.

 

Misalnya, seorang mahasiswa yang sulit lulus dalam satu matakuliah yang diasuh seorang dosen, menunjukkan kemarahannya dengan mencela persoalan pribadi sang dosen, seperti kehidupan sosialnya, cara mengajarnya, pola berpakaiannya, bentuk fisik tubuhya, aliran politiknya, atau pandangan keagamaannya, yang sama sekali tidak ada kaitan yang relevan dengan permasalahan yang mahasiswa bersangkutan alami. Mahasiswa itu seharusnya belajar lebih rutin dan sering diskusi dengan mahasiswa lain yang paham substansi matakuliah, ketimbang bergosip soal ragam aktivitas personal sang dosen.

 

Enam, menuding kelompok. Bahasa Latinnya ialah argumen ad populum. Kesalahan logis ini terjadi saat sasaran kekecewaan ditujukan kepada kelompok. Jadi, seseorang mendiskreditkan suatu kelompok atau golongan karena dia tidak suka pada pandangan atau aliran kelompok tersebut. Padahal, yang perlu ditantang seharusnya adalah pandangan atau alirannya, dengan cara berargumen mengenai kelemahan-kelemahan mazhab atau ideologi kelompok itu, bukan malah membuat agitasi agar orang-orang membenci kelompok atau golongan tersebut.

 

Contoh, dendam kesumat bangsa ini kepada komunisme disebabkan oleh peristiwa sejarah yang meyakini Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai dalang dalam kudeta tahun 1948 dan 1965. Padahal, ideologi komunisme, menurut saya, hanyalah pandangan politik ideal yang dimanfaatkan oleh PKI, sebagai lembaga kepartaian, untuk meraih kekuasaan. Jadi, yang salah bukanlah komunisme sebagai pandangan politik, tapi PKI yang menggunakannya sebagai basis ideologisnya. Sebagai partai, tujuan utama PKI tentu saja adalah kekuasaan politik.

 

Demikianlah sekadar berbagi pengetahuan.

Periksa Juga

Pengda Ramai-Ramai Cabut Rekomendasi Andi Baso RM

Bagikan       NEWSSULSEL.id, Makassar – Pengurus Daerah (Pengda) Perkumpulan Olahraga Domino Indonesia (PORDI) ramai-ramai mencabut rekomendasi …

Tinggalkan Balasan