yang hanya menawarkan ilmu umum saja. Ada pandangan bahwa itu dilakukan untuk menjaga
redupnya pengetahuan agama di Indonesia yang mayoritas penduduk muslim. Bahkan suatu
kesempatan di depan publik, kiai ini berkata ; “….meskipun Islam tidak akan pernah lenyap
dari muka bumi, kemungkinan Islam lenyap di Indonesia tetap terbuka”. (Addison dalam Alwi
Shihab,1998, lihat juga ; Siti Arofah dan Ma’arif Jamu’in, 2015)
Jelasnya, pandangan kiai bahwa pendirian lembaga pendidikan Islam merupakan
tujuan pokok menetrasi pengaruh peradaban global. Dalam sekolah-sekolah Muhammadiyah,
Agama diajarkan sebagai mata pelajaran wajib dan ilmu umum sebagai penunjang.
Langkah monumental ini dalam wacana Islam kontemporer disebut dengan “teologi
transformatif”, karena Islam tidak sekedar menjadi seperangkat ajaran ritual ibadah dan
“hablum minAllah” (hubungan dengan Allah) semata, tetapi justru peduli dan terlibat dalam
memecahkan masalah-masalah kongkret yang dihadapi manusia. Inilah teologi amal yang
tipikal (khas) dari Kiai Dahlan sebagai cikal bakal awal kelahiran Muhammadiyah.
Untuk mewujudkan keiinginan mendirikan sekolah, juga tidak lepas dari kelemahan
pesantren yang terkonotasi ‘ikut mati jika kiainya meninggal’. Hal paling esensial bidang
pendidikan ini merupakan amal usaha paling strategis mewujudkan cita-cita organisasi
Muhammadiyah. Lembaga-lembaga pendidikannya tetap bertahan dan mengalami
perkembangan pesat sejak pertama sekali mendirikan pondok Muhammadiyah tahun 1911 di
Yogyakarta. (Mustafa Kemal dan Ahmad Adaby Darban,2003). Muhammadiyah masih
berperan penting dalam lembaga pendidikan hingga kini dan tersebar hampir di seluruh pelosok
Nusantara, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, dan dari yang berbetuk sekolah
agama hingga benbentuk sekolah umum.
Hal ini merupakan fakta sejarah yang sulit dibohongi, karena sejarah adalah kejujuran
dan kebenaran. Fakta kemampuan untuk survive dalam mengelola pendidikan, didasari pula
landasan berpijak yang kokoh, seperangkat nilai-nilai dasar, sebagai mana Socrates merujuk
pada kemampuan manusia untuk berpikir, menertibkan, meningkatkan dan mengubah dirinya
sendiri. Dalam Al Qur’an pun dikatakan ; “Innallaaha laa yughayyiru maa biqaumin hattaa
yughayyiruu maa bi anfusihim”. (Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka
sendiri yang mengubahnya (Q.S. Ar-Rad ;11) .
Hari Wisuda Unismuh Makassar
Universitas Muhammadiyah Makassar laksanakan wisuda 7 Fakultas dan Pascasarjana. Jumlah
mahasiswa yang ikut wisuda tiap tahun bertambah. Tentu saja perayaan semacam ini boleh jadi.
News Sulsel Mengungkap Fakta Berita