Kebebasan dan Pembangunan

Faisal Djabbar , Seorang Pembelajar dan Pemerhati Kebijakan Publik

NEWSSULSEL.id

Sebuah negara kesejahteraan (welfare state) adalah negara yang mampu menyediakan kebebasan pada warganya. Tapi, instrumen apakah yang dapat memproduksi kebebasan? Pembangunan.

 

Inilah yang dikatakan Amartya Sen dalam bukunya Development as Freedom (1999). Tapi, pembangunan seperti apa yang tengah dibayangkan Sen sehingga dia berpendapat pembangunan mampu menghasilkan kebebasan sejati (real freedom)? Amartya Sen berargumen bahwa pembangunan adalah sebuah proses dalam rangka memperluas kebebasan sejati yang akan bisa dinikmati oleh manusia: “Development can be seen as a process of expanding the real freedoms that people enjoy.”

 

Sen memperlebar makna pembangunan. Bagi Sen, pembangunan tidak hanya diartikan sebagai pembangunan di area pertumbuhan ekonomi semata: perkembangan dalam Gross Domestic Product (GDP) atau kenaikan pendapatan individu di suatu negara. Pembangunan belum pula cukup dengan sekadar ditemukannya teknologi maju atau terbentuknya industrialisasi di satu negara.

 

Meski begitu, Sen tak menampik bahwa menaiknya GDP atau meningkatnya pendapatan individu merupakan variabel penting dalam proses pembangunan. Melonjaknya GDP atau tingginya penghasilan seseorang adalah instrumen penting, tapi itu cuma salah satu cara mencapai kebebasan, bukan satu-satunya perangkat penilaian suksesnya sebuah proses pembangunan.

 

Lebih jauh, menurut Sen, tercapainya kebebasan tak bergantung semata pada menaiknya GDP atau penghasilan individu. Proses pembangunan bergantung pula pada determinan-determinan lain seperti perkembangan sosial, misalnya tersedianya fasilitas-fasilitas pendidikan dan sarana-sarana kesehatan. Selain itu, juga tak kalah pentingnya, adalah kebebasan politik dan pemberian ruang selebar-lebarnya bagi tumbuhnya masyarakat sipil yang kuat dan kritis.

 

Bila pembangunan adalah sebuah proses menuju kebebasan, maka, bagi Sen, sebuah proses pembangunan mensyaratkan sirnanya sumber-sumber utama ketidak-bebas-an. Sumber-sumber itu adalah kemiskinan, tirani, peluang berusaha yang diisolasi oleh negara, penghirauan akan penyediaan fasilitas-fasilitas berguna bagi publik, pemerintahan yang represif, negara yang otoriter, dan masyarakat yang intoleran.

 

Ketidak-bebas-an membawa masyarakat di satu negara pada keterbatasan; ketidak-bebas-an adalah keterbatasan. Dalam kata-kata Sen: “The unfreedom links closely to the lack of public facilities and social care, such as the absence of epidemiological programs, or of organized arrangements for health care or educational facilities, or of effective institutions for the maintenance of local peace and order. The violation of freedom results directly from a denial of political and civil liberties by authoritarian regimes and from imposed restrictions on the freedom to participate in the social, political, and economic life of the community.”

 

Amartya Sen memandang kebebasan sebagai sebuah kebebasan bagi orang per orang; kebebasan individu, kebebasan pribadi. Kebebasan sosial bakal terwujud ketika kebebasan personal terpenuhi. Namun, kebebasan itu sendiri baru dapat tercapai bila kondisi-kondisi di sekeliling individu tersebut mendukung bagi terciptanya lingkungan yang bebas; kebebasan.

 

Dengan kata lain, lingkungan seputar individu sangat berperan dalam terjelmanya kebebasan individu. Sen menyebut lingkungan seputar individu sebagai instrumental freedom. Menurut Sen, ada lima instrumen pendukung utama yang akan membawa kebebasan pada individu yakni political freedoms, economic facilities, social opportunities, transparency guarantees, dan protective security.

 

Karena itu, mengikuti Sen, ada lima indikator negara kesejahteraan, yakni kebebasan politik, tersedianya fasilitas ekonomi, peluang sosial, jaminan transparansi, dan jaminan keamanan.

 

Terwujudnya lingkungan yang menyediakan lima instrumen kebebasan dambaan Sen akan membutuhkan peran negara yang minimal. Pemerintah, karena itu, harus minimal dalam pengelolaan kekuasaan. Pemerintah yang terlalu dominan dan mengambil alih semua urusan bukanlah pemerintah yang akan memunculkan kekebasan individu.

 

Jadi, negara wajib menciptakan kondisi yang akrab bagi munculnya kebebasan: peluang berusaha bagi semua warganegara, kebebasan berkecimpung dalam bidang-bidang politik, masyarakat sipil yang kuat, kesehatan bagi seluruh masyarakat, pendidikan dasar, dan ruang bagi inisiatif-inisiatif masyarakat untuk bersemi. Kebebasan mustinya bukan cuma sebuah tujuan akhir. Kebebasan adalah proses. Dia berjalan berbarengan dengan proses pembangunan. “Freedoms are not only the primary ends of development, they are also among its principal means,” ujar Sen.

 

Pembangunan yang berarti adalah pembangunan yang membutuhkan kebebasan dalam proses perjalanannya. Tanpa kebebasan, pembangunan menjelma menjadi sebuah proses yang tiada arti. Pembangunan ialah proses perpindahan dari satu pijakan ke pijakan lain yang lebih tinggi dari sebelumnya. Namun, tidak ada pembangunan tanpa kebebasan di dalamnya.

 

Sebuah kebebasan tentu bukan cuma kebebasan fisikal, seperti bebas beraktifitas, bebas berbicara, bebas mengkritik pemerintah. Kebebasan adalah pula kebebasan dalam memeluk agama, keyakinan, kepercayaan, atau mempelajari segala bentuk paham, baik itu paham kanan, tengah, atau kiri sekalipun.

 

Oleh sebab itu, kebebasan seyogianya tak hanya disediakan oleh pemerintah tapi juga diberikan oleh komunitas dan keluarga dari mana individu berada dan berasal: masyarakat dan orangtua dapat menahan diri untuk memaksakan agama atau kepercayaannya pada individu atau anak-anaknya.

 

Kebahagiaan adalah wujud dari kebebasan itu sendiri. Kebahagiaan muncul ketika semua syarat kebebasan sudah terpenuhi.

Periksa Juga

Serah Terima Armada, Posko Damkar Wonomulyo Kembali Aktif

Bagikan      NEWSSULSEL.id, Polman – Harapan masyarakat Kecamatan Wonomulyo agar posko pemadam kebakaran kembali beroperasi akhirnya terwujud. …

Tinggalkan Balasan