Faisal Djabbar, Seorang Pembelajar, Penikmat Seni
Di manakah tanah pijak seorang seniman? Saya ingin mengenang seorang seniman penyanyi. Dia wafat empat tahun lalu. Warisan lagu-lagu ciptaannya menyebar dan mungkin lestari: Didi Kempot.
The godfather of broken heart meninggal dunia, Selasa, 5 Mei 2020, pukul 07.45 wib. Dia insan besar. Bagi saya, tiap kali orang besar wafat, itu adalah kerugian besar buat bangsa ini. Kehilangan pilu bangsa pada Didi Kempot.
Kita tahu beliau mengarang banyak lagu berbahasa Jawa. Saya bukan orang Jawa, tapi saya gemar Didi Kempot. Saya Sobat Ambyar.
Suatu kali, sekian tahun silam, saat berkunjung ke Semarang, saya mendengar sayup-sayup suara Didi Kempot dari sound system di sebuah warung makan di daerah Candi Baru. Saya hanya dengar, tapi tak mengindahkan. Bukan seleraku, gumam saya ketika itu.
Saya sempat sangsi pada pilihan bermusik Didi Kempot. Pasalnya, dalam pandangan picik saya waktu itu, aliran musik campursari tak akan laku di pasar. Dominasi lagu-lagu pop, rock, dan rhythm & blues (R & B), menyisakan celah sempit bagi berseminya musik tradisional atau campursari.
Apalagi, syair lagu-lagu Didi Kempot sebagian besar berbahasa Jawa. Kian sempit jugalah cakupan pendengarnya. Tembang-tembang dia yang berlatar tempat, seperti Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi, atau Trenggalek Nyimpen Tresno, barangkali tak terlalu akrab di telinga orang luar Jawa. Tak semua orang di luar Jawa tahu dan familiar dengan lokasi-lokasi itu.
Preferensi pasar, mungkin, bukanlah referensi utama Didi Kempot. Pelestarian budaya, khususnya kultur Jawa, menurut saya, adalah tafakur substantif Didi Kempot.
Berjalannya waktu, saya berangkat menyenangi irama campursari. Mulanya bukan lewat Didi Kempot, tapi lewat almarhum Manthous. Satu lagu Manthous, berjudul Gethuk, yang dinyanyikan ulang Nur Afni Octavia, menjadi punca (asal mula) kesukaan saya pada irama campursari. Juga, saya terkesan pada lagu keroncong plus tambahan sedikit langgam campursari berjudul Sapu Lidi, ciptaan Gesang, misalnya, yang didendangkan secara manis oleh Sundari Soekotjo.
Kegemaran ini bersambung pada Didi Kempot. Dia meluaskan horizon saya pada irama dan nada campursari, meskipun saya ndak paham benar bahasa Jawa. Tapi, bukankah musik, secara khusus campursari, adalah bahasa universal?
Lagu-lagu Didi Kempot pun kian syahdu di telinga saya, usai dua tembangnya, Stasiun Balapan dan Terminal Tirtonadi, dilanggamkan dalam irama bossanova oleh seorang biduan bernama Lesta.
Di luar itu, saya selalu salut pada orang seperti Didi Kempot. Dia berdiri tegak di atas titik keyakinannya. Di daerah asal orang tua saya, Sulawesi Selatan, ada pula seorang pelantun lagu-lagu Bugis-Makassar, bernama Anci Laricci. Dia bersenandung dalam lagu-lagu berbahasa Bugis-Makassar, seperti Pantai Losari, Sajang Rennu, dan Janjinnu. Beliau telah pula wafat 2017 lalu.
Bisalah kita katakan, di tangan Didi Kempot, Anci Laricci, dan seniman-seniman lokal lainnya, keaslian budaya kita tetap terjaga dan senantiasa segar.
Pada sisi lain, Didi Kempot, bagi saya, adalah cermin nyata integritas. Dia sekelas WS Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Joko Pinurbo, Jeihan, Nasirun, Didik Hadiprayitno (Didik Nini Thowok), Iwan Fals, Gombloh, dan Tonny Koeswoyo. Mereka hidup dan bergumul dalam seni, apa pun jenis atau genre seni itu. Mereka tegak dan lempang dalam ranah keseniannya.
Saya yakin Didi Kempot mengalami dan menyelami asam-manis hidup. Suka-duka, senang-gembira, atau naik-turun hanyalah dinamika kehidupan, karena yang puncak adalah keindahan itu sendiri. Dan, keindahan sesungguhnya adalah Sang Pencipta itu sendiri.
Akhirnya, di manakah tanah pijak seorang seniman? Kita belajar satu poin penting dari Didi Kempot: kebesaran seseorang bukan berasal dari pengakuan orang lain, melainkan bersumber dari ketetapan hati diri sendiri. Integritas personal. Hiduplah di atas dualitas, kata orang bijak.
Kita tak perlu emblem di dada untuk mendapatkan hormat dari orang lain.
News Sulsel Mengungkap Fakta Berita