suherman

Mendapat Kunjungan Tim Supervisi Sat Brimob Polda Sulsel, Ini Kata Danyon Ichsan

NEWSSULSEL.id, BONE – Batalyon C Pelopor Satbrimob Polda Sulsel menerima Supervisi dari Satbrimob Polda Sulsel, Jum’at (17/05/24).

Kedatangan tim Supervisi yang dipimpin oleh Kasubbag Renmin Satbrimob Polda Sulsel Kompol Azis Bani ke Mako Brimob Bone di Jalan M.H. Thamrin No. 70 Kelurahan Ta Kecamatan Tanete Riattang ini, dalam rangka mengecek sejauh mana pelaksanaan kegiatan di Batalyon C Pelopor baik itu pembinaan maupun operasional dan persamaan persepsi terkait pelaksanaan tugas di Jajaran Satbrimob Polda Sulsel.

Hal ini diungkapkan oleh Komandan Batalyon (Danyon) C Pelopor Satbrimob Polda Sulsel Kompol Nur Ichsan,S.Sos., M.Si. yang ditemui awak media di sela-sela kegiatan supervisi.

” Hari ini kami menerima Supervisi dari Sat Brimob Polda Sulsel, dimana kegiatan ini bertujuan untuk mengecek sejauh mana kinerja Batalyon C Pelopor serta menyamakan persepsi tentang aturan-aturan interen pada jajaran Satbrimob Polda Sulsel demi kemajuan satuan, ” tutur Danyon Ichsan.

Perwira Menengah (Pamen) bergelar Magister Of Saint ini juga menjelaskan jika kegiatan supervisi ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan oleh Sat Brimob Polda Sulsel.

” Kegiatan Supervisi ini merupakan kegiatan rutin setiap tahunnya dan mana kala ada temuan tentunya akan kami jadikan sebagai bahan anev untuk perbaikan ke depannya, ” sambungnya.

Sementara itu ketua tim Supervisi Kompol Azis Bani yang mewakili Dansat Brimob Polda Sulsel, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Batalyon C Pelopor berserta jajaran atas sambutan dan kesiapan menerima kegiatan Supervisi.

” Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Danyon C Pelopor beserta jajarannya yang telah menyambut kami dengan sangat baik, kami juga berterima kasih atas kesiapan Batalyon C Pelopor sehingga kegiatan supervisi ini berjalan lancar ” ungkap Azis Bani.

Meski demikian, dalam kegiatan supervisi di Batalyon C Pelopor Satbrimob Polda Sulsel masih ditemukan sejumlah kekurangan, namun Kompol Azis Bani menyatakan jika kekurangan tersebut masih sebatas kewajaran.

“Temuan pasti ada, namun sifatnya masih wajar dan hal ini juga akan jadi bahan anev bagi kami dan Batalyon C Pelopor demi kemajuan Satuan Brimob Polda Sulsel, disamping itu semua kami juga melihat banyak kemajuan di Batalyon C Pelopor dibanding supervisi tahun lalu” tandas Kasubbag Renmin Satbrimob Polda Sulsel… (*)

 

Lp. Hamza

Langgar Pernyataan Damai di Sekta 4, Maya Kembali Serang Korban, Polisi Diminta Aman Pelaku

NEWSSULSEL.id – Kasus pengeroyokan di Jalan Vetran Utara Makassar, Sulawesi Selatan, April 2024 lalu yang dilakukan Maya alias Clara, berbuntut panjan meskipun telah dilaporlan ke Sekta Makassar oleh korban inisial ET dengan nomor : LP/70/K//IV/2024/Sektor Makassar tanggal 6 Mei 2024.

Video Penyerangan pelaku saat melihat korban hendak pulang dari kios Melodi

Hal tersebut di sampaikan Korban saat hendak melaporkan penyerangan yang dilakukan Maya kembali kepada dirinya di Polsek Makassar tadi malam sekitat pukul 01: 30 Wita kepada awak media ini.

Menurut Korban Kasus ini sudah pernah di proses saya kabul kan permohonan damainya karene pertimbangan kemanusiaan dan berharap pelaku tidak mengulangi perbuatannya.

“Ternyata saat saya hendak pulang dari melodi saya ketemu pelaku dan langsung menyeran saya sambil memaki maki saya, makanya saya kepolsek tuk melaporkan kejadian ini sebab tidak sesui pernyataan yang dibuat pelaku,” jelas troma dengan kejadian yang baru dialami.

Keluar korban berharap polisi segera amankan mantan isteri mandor expedisi Atlantik di jalan Nusantara itu agar pelaku tak mengulang tindakannya yang sudah membuat korban troma.

“Kami harap Polisi tidak lakukan pembiaran terhadap tindakan pelaku yang telah berulang kepada keluarga kami,” jelas herman yang dampingi korban ke polsek semalam…(*).

Lp. Bangfly

Kempot Tetap Hati

Faisal Djabbar, Seorang Pembelajar, Penikmat Seni

 

Di manakah tanah pijak seorang seniman? Saya ingin mengenang seorang seniman penyanyi. Dia wafat empat tahun lalu. Warisan lagu-lagu ciptaannya menyebar dan mungkin lestari: Didi Kempot.

 

The godfather of broken heart meninggal dunia, Selasa, 5 Mei 2020, pukul 07.45 wib. Dia insan besar. Bagi saya, tiap kali orang besar wafat, itu adalah kerugian besar buat bangsa ini. Kehilangan pilu bangsa pada Didi Kempot.

 

Kita tahu beliau mengarang banyak lagu berbahasa Jawa. Saya bukan orang Jawa, tapi saya gemar Didi Kempot. Saya Sobat Ambyar.

 

Suatu kali, sekian tahun silam, saat berkunjung ke Semarang, saya mendengar sayup-sayup suara Didi Kempot dari sound system di sebuah warung makan di daerah Candi Baru. Saya hanya dengar, tapi tak mengindahkan. Bukan seleraku, gumam saya ketika itu.

 

Saya sempat sangsi pada pilihan bermusik Didi Kempot. Pasalnya, dalam pandangan picik saya waktu itu, aliran musik campursari tak akan laku di pasar. Dominasi lagu-lagu pop, rock, dan rhythm & blues (R & B), menyisakan celah sempit bagi berseminya musik tradisional atau campursari.

 

Apalagi, syair lagu-lagu Didi Kempot sebagian besar berbahasa Jawa. Kian sempit jugalah cakupan pendengarnya. Tembang-tembang dia yang berlatar tempat, seperti Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi, atau Trenggalek Nyimpen Tresno, barangkali tak terlalu akrab di telinga orang luar Jawa. Tak semua orang di luar Jawa tahu dan familiar dengan lokasi-lokasi itu.

 

Preferensi pasar, mungkin, bukanlah referensi utama Didi Kempot. Pelestarian budaya, khususnya kultur Jawa, menurut saya, adalah tafakur substantif Didi Kempot.

 

Berjalannya waktu, saya berangkat menyenangi irama campursari. Mulanya bukan lewat Didi Kempot, tapi lewat almarhum Manthous. Satu lagu Manthous, berjudul Gethuk, yang dinyanyikan ulang Nur Afni Octavia, menjadi punca (asal mula) kesukaan saya pada irama campursari. Juga, saya terkesan pada lagu keroncong plus tambahan sedikit langgam campursari berjudul Sapu Lidi, ciptaan Gesang, misalnya, yang didendangkan secara manis oleh Sundari Soekotjo.

 

Kegemaran ini bersambung pada Didi Kempot. Dia meluaskan horizon saya pada irama dan nada campursari, meskipun saya ndak paham benar bahasa Jawa. Tapi, bukankah musik, secara khusus campursari, adalah bahasa universal?

 

Lagu-lagu Didi Kempot pun kian syahdu di telinga saya, usai dua tembangnya, Stasiun Balapan dan Terminal Tirtonadi, dilanggamkan dalam irama bossanova oleh seorang biduan bernama Lesta.

 

Di luar itu, saya selalu salut pada orang seperti Didi Kempot. Dia berdiri tegak di atas titik keyakinannya. Di daerah asal orang tua saya, Sulawesi Selatan, ada pula seorang pelantun lagu-lagu Bugis-Makassar, bernama Anci Laricci. Dia bersenandung dalam lagu-lagu berbahasa Bugis-Makassar, seperti Pantai Losari, Sajang Rennu, dan Janjinnu. Beliau telah pula wafat 2017 lalu.

 

Bisalah kita katakan, di tangan Didi Kempot, Anci Laricci, dan seniman-seniman lokal lainnya, keaslian budaya kita tetap terjaga dan senantiasa segar.

 

Pada sisi lain, Didi Kempot, bagi saya, adalah cermin nyata integritas. Dia sekelas WS Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Joko Pinurbo, Jeihan, Nasirun, Didik Hadiprayitno (Didik Nini Thowok), Iwan Fals, Gombloh, dan Tonny Koeswoyo. Mereka hidup dan bergumul dalam seni, apa pun jenis atau genre seni itu. Mereka tegak dan lempang dalam ranah keseniannya.

 

Saya yakin Didi Kempot mengalami dan menyelami asam-manis hidup. Suka-duka, senang-gembira, atau naik-turun hanyalah dinamika kehidupan, karena yang puncak adalah keindahan itu sendiri. Dan, keindahan sesungguhnya adalah Sang Pencipta itu sendiri.

 

Akhirnya, di manakah tanah pijak seorang seniman? Kita belajar satu poin penting dari Didi Kempot: kebesaran seseorang bukan berasal dari pengakuan orang lain, melainkan bersumber dari ketetapan hati diri sendiri. Integritas personal. Hiduplah di atas dualitas, kata orang bijak.

 

Kita tak perlu emblem di dada untuk mendapatkan hormat dari orang lain.

 

 

Salut!! SAR Brimob Bone Bantu Korban Kebakaran Bajoe

NEWSSULSEL.id, BONE- 1 (satu) unit rumah semi permanen di Lingkungan Bajoe Kelurahan Bajoe Kecamatan Tanete Riattang Timur hangus dilalap si Jago Merah, Minggu (12/05/24) sekitar pukul 18.06. waktu setempat.

Belum diketahui pasti penyebab kebakaran yang menghanguskan rumah panggung milik Sumardi Tanta (60).

Salah seorang warga mengatakan jika api berasal dari meteran listrik di depan rumah korban yang ditinggal kosong pada saat kegiatan.

“Tadi pas saya lewat, ku lihat ki menyala kilometernya langsung ada api, baru tidak ada disitu penghuninya,” ujar Rajul.

Api cepat menjalar ke seluruh bagian rumah yang terbuat dari kayu tersebut. Barulah 1(satu) jam kemudian api berhasil dijinakkan oleh 5 (lima) unit mobil pemadam kebakaran dari Dinas Damkar Kabupaten Bone.

Akibat kebakaran ini, korban mengalami kerugian yang ditafsir mencapai Rp 50.000.000. dan saat ini korban terpaksa mengungsi ke rumah kerabatnya.

Sebagai wujud kepedulian dan kemanusiaan dalam insiden kebakaran ini, Komandan Batalyon (Danyon) C Pelopor Satbrimob Polda Sulsel Kompol Nur Ichsan, S.Sos., M.Si., menerjunkan Tim SAR Batalyon C Pelopor Satbrimob Polda Sulsel untuk melakukan pembersihan puing-puing sisa kebakaran, Senin (13/04/24)

“Sebagai wujud Bhakti Brimob Untuk Masyarakat, hari ini kami melakukan kegiatan sosial kemanusiaan membantu korban kebakaran Bajoe,” ungkap Danyon Ichsan yang ditemui awak media setelah memimpin apel pagi.

Danyon Ichsan juga menjelaskan tentang tugas tim SAR Brimob yang terjun ke lokasi kebakaran di Kelurahan Bajoe.

“Disamping membersihkan puing-puing sisa kebakaran, tim SAR Brimob Bone juga membantu memilah-milah barang yang masih bisa digunakan serta membantu mencari barang berharga milik korban yang masih bisa diselamatkan,” tambah Danyon Ichsan.

Tidak hanya itu, tim SAR Brimob Bone juga mendirikan tenda lapangan dan memasang tempat tidur lapangan untuk tempat tinggal sementara korban kebakaran.

Kegiatan kemanusiaan personel Brimob Bone ini juga dibantu oleh personel Sat Polair Polres Bone dan masyarakat sekitar rumah korban kebakaran serta mendapat apresiasi dari pemerintah setempat.

Lurah Bajoe Apriadi mengucapkan banyak terima kasih kepada personel Brimob Bone atas kepeduliannya kepada warganya.

“Alhamdulillah, sangat disyukuri dengan adanya partisipasi dari pasukan Brimob Bone dalam membantu korban kebakaran di wilayah kami ini, semoga kegiatan ini berdampak positif bagi korban dan masyarakat kami, sekali lagi kami ucapkan banyak terima kasih,” pungkas Lurah Bajoe…(*)

 

Lp. Hamzah

Peduli Korban Bencana, Bersama Pemda Bone, Batalyon C Pelopor Salurkan Bantuan

NEWSSULSEL.id, BONE – Batalyon C Pelopor Sat Brimob Polda Sulsel bersama Pemkab Bone mengirimkan bantuan untuk korban bencana alam di Kab. Wajo, Luwu, Sidrap, Enrekang dan Toraja, Sabtu (11/05/2024).

Diawali apel pelepasan di Rumah Jabatan Bupati Bone yang dipimpin Pj. Gubernur Sulsel Dr. Drs. Bahtiar Baharuddin, MSi, sebanyak 52 unit kendaraan logistik berserta pengantar diberangkatkan dengan pengawalan dari personel Batalyon C Pelopor dan Polres Bone.

Pj. Gubernur menyampaikan, pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bersama Forkopimda telah memantau langsung daerah yang terdampak bencana dan bergerak cepat membantu mengevakuasi korban bencana, memberi bantuan dan mendirikan posko di beberapa titik.

“Alhamdulillah bantuan logistik dari beberapa daerah sudah tersalurkan disana dan hari ini kita juga berangkatkan bantuan logistik dari Kab. Bone, ini adalah hal yang luar biasa dimana Bone sangat peduli terhadap saudara-saudara kita yang terdampak bencana, semoga ini bernilai ibadah bagi kita semua,” ujar Bahtiar.

Sementara itu saat dikonfirmasi oleh awak media di sela-sela pemberangkatan bantuan, Komandan Batalyon (Danyon) C Pelopor Kompol Nur Ichsan, S.Sos., M.Si mengatakan bahwa pihaknya turut menyalurkan sembako yang hari ini akan dikirim ke daerah yang terdampak bencana.

“Bantuan ini merupakan hasil donasi dari seluruh personel Batalyon C Pelopor yang akan dibawa bersama bantuan dari Pemkab Bone,” ujar Nur Ichsan.

Danyon Ichsan juga menambahkan bahwa pengumpulan donasi untuk korban bencana ini sesuai kemampuan dan keikhlasan dari personel.

“Alhamdulillah dalam waktu yang tidak begitu lama terkumpul dana dan langsung kita belanjakan, semoga ini dapat membantu saudara-saudara kita yang terdampak tanah longsor dan banjir dalam menghadapi kondisi darurat,” pungkas Danyon bergelar Magister Sains ini…(*).

 

Lp. Hamzah

Sekelumit Tanri Abeng: manajemen sebagai profesi

Faisal Djabbar ,Seorang Pembelajar dan Anggota Komite Audit Dewan Komisaris PT Bank Sulselbar

Suatu kali, saat menjabat Menteri Negara Pendayagunaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Tanri Abeng (lahir 1942) menghadap Presiden Soeharto. Ketika itu, medio 1998, Tanri Abeng ingin menyodorkan Master Plan Pengembangan BUMN. Sebelum menyerahkan, beliau paparkan secara singkat rencana induk pengembangan BUMN tersebut. Soeharto tersenyum. Sambil menerima dan menutup map yang berisi Rencana Induk itu, Soeharto memasukkan map ke dalam laci (Tanri Abeng, No Regrets, 2012).

 

Soeharto kemudian meminta Tanri Abeng meminum teh yang telah dihidangkan. Maksud Soeharto, usai minum teh, Tanri Abeng segera meninggalkan ruangan. Pulang. Tapi, sang Menteri tetap di tempat duduknya. Dia malah makin kencang. Selain mengajukan Master Plan Pengembangan BUMN, sang Menteri mendesak pergantian Direksi Garuda Indonesia. Hal ini lantaran Garuda Indonesia mengalami kebangkrutan. Pendeknya, Tanri Abeng kukuh pada kehendak yang menurutnya benar.

 

Esok harinya, sang Menteri mendapatkan kiriman buku berjudul Budaya Jawa. Para sahabatnya mengatakan, dengan nada keras, untung beliau bukan orang Jawa. Entah apa maknanya.

 

Berjalan waktu, masih sebagai Menteri Negara Pendayagunaan BUMN, Tanri Abeng berhadapan dengan sekitar 200 orang demonstran. Mereka mengerumuni Kantor Kementerian BUMN. Para demonstran mengatasnamakan warga di sekitar pabrik Krakatau Steel, Cilegon, Banten. Mereka mengenakan sorban dengan tampang terlihat marah. Pasal kemarahan pendemo didasari berita adanya masjid yang akan diubah menjadi gereja. Pimpinan demonstran berhasil naik ke kantor sang Menteri. Mereka menyerukan pertanyaan, kenapa Krakatau Steel dijual ke investor India, lalu masjid akan digusur dan dibangun gereja.

 

Tanri Abeng bilang ke pendemo, dirinya orang Bugis-Makassar. Mana bisa dia mempertaruhkan kredibilitas Krakatau Steel dengan mempertentangkan agama dengan isu lain. Tanri Abeng berkata, dirinya merupakan keturunan keluarga Syech Yusuf Al-Makassari yang berjuang di Banten, sehingga tidak mungkin pula dirinya memperkeruh kondisi keagamaan bangsa yang sudah teduh. Syech Yusuf berasal dari bangsawan Gowa dan mempunyai pertalian kerabat dengan raja-raja Banten.

 

Sang Menteri menyatakan ke pendemo, dirinya tidak punya kepentingan pribadi. Beliau, katanya, diberi tugas menyelamatkan bangsa dari krisis melalui kewenangannya sebagai Menteri BUMN. Dalam melaksanakan tugas, beliau fokus bagaimana agar dirinya berhasil menjalankan monumental tasks dan berbuat sesuatu bagi negara.

 

Dua cerita singkat di atas setidaknya menggambarkan secara lekas sikap berani dan tegas seorang Tanri Abeng. Kondisi internal ini mungkin berasal dari pengalaman hidup di masa kecil dan remajanya. Kedua orangtua Tanri Abeng berprofesi sebagai petani, yang meninggal dunia saat dirinya masih kanak-kanak. Sejak usia 10 tahun, beliau berjuang hidup. Di Makassar, dia menumpang hidup dengan paman dan saudara sepupunya. Sambil sekolah, di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) dilanjutkan ke Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA), beliau berjualan pisang goreng. Hidup susah menempa dirinya.

 

Lebih jauh, keberanian Tanri Abeng bersumber dari prinsip profesionalitasnya dalam mengelola (manajemen) organisasi. Untuk menjadi profesional, ujarnya, seseorang harus mampu menunjukkan nilai moral yang teruji. Menjadi profesional berarti menjadi orang bermoral.

 

Manajemen profesional, ungkapnya, berarti membentuk manusia berperilaku baik: tidak boleh mencuri aset perusahaan, bekerja dengan tekun, disiplin, dan apabila tidak mempunyai kompetensi akan digeser. Dengan mekanisme begitu, Tanri Abeng percaya budaya perusahaan dengan sendirinya akan terbangun kuat.

 

Profesionalitas, lanjut Tanri Abeng (No Regrets, 2012), bukan bersumber dari adanya kewenangan jabatan dan posisi. Profesionalitas terletak pada kualitas fungsional seseorang. Jabatan dan posisi dapat dibeli, tetapi profesionalitas tidak. Hal ini karena profesionalitas berkaitan dengan kompetensi, kredibilitas, dan integritas pribadi.

 

Profesional adalah seorang pekerja yang mempunyai dua elemen yang melekat dalam dirinya: pengetahuan dan keterampilan. Itulah yang tidak dapat dibeli. Seorang profesional harus mempunyai otonomi (moral). Dia tidak dapat dikendalikan, diawasi, atau diarahkan. Dia harus tertutup, karena pengetahuan dan penilaiannya harus dipercayakan kepada keputusan.

 

Seorang profesional tidak tunduk pada kendali politik atau ideologi yang merusak kehidupan bersama atau merugikan tata masyarakat. Definisi dasar dan wajib bagi profesional adalah tidak melakukan apa yang dia ketahui itu salah. Hal ini termuat dalam buku Tanri Abeng, yang ditulis bersama Riant Nugroho, berjudul Manajemen sebagai Profesi, terbitan 2024.

 

Dalam bukunya tersebut di atas, Tanri Abeng berkisah. Beliau punya sahabat bernama Kishore Mahbubani, yang saat ini merupakan Distinguished Fellow di Asia Research Institute, National University of Singapore. Mahbubani menjelaskan bahwa resep sukses pertama keberhasilan Singapura ialah menerapkan meritokrasi. Mereka yang naik adalah yang terbaik.

 

Lalu, yang kedua yakni pragmatisme. Singapura mempelajari praktik-praktik baik (best practices) tata kelola pemerintahan dan perusahaan dari seluruh dunia. Juga, membangun manajemen pengetahuan (knowledge management) yang dapat diperbandingkan dan diterapkan.

 

Selanjutnya, yang ketiga adalah kejujuran. Tanpa kejujuran, ujar Kishore Mahbubani, tidak akan ada meritokrasi. Dengan kejujuran, pengelolaan negara dan perusahaan tak akan bisa dibajak menjadi kesewenang-wenangan, penyelewengan, dan korupsi. Kejujuran merupakan bahan baku integritas. Dan, integritas menjadi sumber kepercayaan.

 

Namun, integritas harus paralel dengan pengetahuan. Integritas tanpa pengetahuan tidak akan efektif, sedangkan pengetahuan tanpa integritas amat berbahaya (Wankel dan Agata, 2011, dikutip dari Tanri Abeng dan Riant Nugroho, Manajemen sebagai Profesi, 2024). Integritas merupakan penentu manajemen agar manajemen tidak semata menjadi bungkus tirani.

 

Saat memilih pengganti Direktur Utama Garuda Indonesia yang sedang mengalami kebangkrutan pada medio 1998, Tanri Abeng, dalam kapasitasnya sebagai Menteri Negara Pendayagunaan BUMN, membuat tiga kriteria bagi calon Direktur Utama. Ketika itu, Garuda Indonesia mengalami kerugian USD 1,8 miliar yang ditutup dengan utang dan secara bersamaan ekuitasnya negatif USD 300 juta.

 

Pertama, calon Direktur Utama Garuda Indonesia harus orang yang paham keuangan dan perbankan. Kapasitas ini agar dia bisa berkomunikasi dengan para kreditur atau seorang banker kaliber internasional. Garuda Indonesia, kata Tanri Abeng, tidak hanya butuh seorang negosiator, melainkan orang yang bisa memenangkan negosiasi.

 

Kedua, dia haruslah orang yang tegas dan berani. Untuk melakukan transformasi di Garuda Indonesia ketika itu diperlukan Direktur Utama yang tegas dan berani. Tanpa kualitas tersebut, Garuda Indonesia akan sulit berubah ke arah yang diharapkan.

 

Berani, dalam hal ini, bukan sekadar berani, tetapi penuh pertimbangan matang sekaligus luwes. Pengalaman Tanri Abeng mengatakan bahwa dalam keberanian terdapat keluwesan, kesantunan, namun juga ada kesungguhan. Keberanian sejati, tulis Tanri Abeng, adalah keberanian dengan ketulusan untuk memberikan kebaikan sejati kepada orang lain, organisasi, serta bangsa dan negara. Jadi, keberanian bukan karena kepentingan pribadi.

 

Ketiga, dia harus memiliki integritas yang tidak bisa diragukan lagi. Untuk memilih orang, anda harus “kenal” orangnya. Ketahuilah pilihan anda. Pemilihannya tidak sekadar melalui curriculum vitae yang disodorkan dan mewawancarainya. Anda harus tahu persis siapa sang calon. Ketiga kriteria itu, menurut Tanri Abeng, dimiliki oleh Robby Djohan.

 

Robby Djohan adalah pembangun Bank Niaga, yang sekarang sudah melebur menjadi Bank CIMB Niaga. Robby Djohan sempat pula ditugaskan mengawal penggabungan empat bank pelat merah, yakni Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia, dan Bank Pembangunan Indonesia, menjadi Bank Mandiri. Beliau, dengan penunjukkan Tanri Abeng, ditugasi menangani krisis di BUMN Garuda Indonesia, ketika pada 1998 perusahaan tersebut terancam bangkrut.

 

Akhir kata, di tengah penghormatan orang atas keberhasilannya sebagai pemimpin dan manajer profesional, Tanri Abeng pun mengakui pernah membuat keputusan salah, terutama saat dirinya menjadi manajer di usia muda. Tetapi, baginya, membuat keputusan salah merupakan bagian dari proses pembelajaran. Salah sekali-sekali tidak apa-apa, tuturnya, asalkan tidak diulang kembali. No excuse, no regrets.

 

 

 

Fokus Bersihkan Fasilitas Umum Dan Pendistribusian Bantuan, Ini Kata Danyon Ichsan

NEWSSULSEL.id, WAJO – Musibah banjir bandang yang melanda Siwa Kabupaten Wajo, Jum’at (03/05/24) lalu ,menimbulkan kerusakan terhadap sejumlah fasilitas umum yang menyebabkan aktifitas masyarakat nyaris lumpuh.

Memasuki hari ketiga, tim SAR Batalyon C Pelopor Satbrimob Polda Sulsel terus melakukan upaya-upaya percepatan pemulihan situasi di Kota Siwa Kabupaten Wajo pasca diterjang banjir bandang terparah sepanjang sejarah.

Tim SAR Brimob Bone tampak fokus melakukan pembersihan terhadap fasilitas-fasilitas umum yang terdampak banjir seperti rumah ibadah dan fasilitas kesehatan serta Mapolsek Pitumpanua.

“Hari ini tim SAR Brimob Bone yang berada di Siwa fokus melakukan pembersihan fasilitas umum seperti rumah ibadah dan fasilitas kesehatan, termasuk Mapolsek Pitumpanua, hal ini dilakukan agar aktivitas pelayanan masyarakat bisa normal kembali ” tutur Danyon C Pelopor kepada awak media, Senin (06/05/24).

Lokasi yang menjadi sasaran pembersihan personel Batalyon C Pelopor diantaranya Mesjid Besar Al Muttaqin, Puskesmas Pitumpanua dan Polsek Pitumpanua.

Komandan Batalyon (Danyon) C Pelopor Satbrimob Polda Sulsel Kompol Nur Ichsan, S.Sos., M.Si., juga menerangkan jika anggotanya juga membantu penyaluran bantuan kemanusiaan kepada korban banjir.

“Selain pembersihan fasilitas umum, bersama Kemensos dan BPBD Kabupaten Wajo kami juga membantu menyalurkan bantuan sembako kepada warga terdampak banjir di sekitar Kecamatan Pitumpanua secara door to door ” tambah Danyon Ichsan.

Tidak hanya mengirim perkuatan personel untuk membantu percepatan pemulihan situasi Siwa, Satbrimob Polda Sulsel juga menerjunkan 1 (satu) unit mobil penjernih air atau mobil Water Treatment.

Kendaraan khusus (Ransus) Water Treatment milik Satbrimob Polda Sulsel ini mempunyai dua tangki air masing-masing berkapasitas 2000 liter untuk air bersih dan 200 liter untuk air siap minum.

Selain memiliki daya tampung air bersih yang cukup besar, kendaraan penjernih air milik Satbrimob Polda Sulsel ini juga memiliki kemampuan merubah air kotor menjadi air layak konsumsi.

Hal ini menjadi tujuan utama kendaraan khusus ini diterjunkan karena sebagian besar korban banjir memerlukan bantuan air bersih dan air minum untuk kebutuhan sehari-hari…(*).

 

Lp. Hamzah W

Jago Merah Hanguskan Rumah di Dusun Gollae Kab Maros

NEWSSSULSEL.id,  MAROS – Si jago merah kembali menghanguskan sebuah rumah milik salah satu santri TPQ atas nama Aria (8) dan Akbar (8) di Dusun Gollae, Desa Aliritangae Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan.

Menurut informasi yang dihimpun awak media ini keduanya di nyatakan selamat meskipun api sempat merambah kerumah Bukti Musdhalifa Ketua Unit Sosekes MWC Kecamatan Bantimurung. Tak berselang lama Damkar Maros tiba di lokasi kebakaran.

Hingga berita ini di terbitkan belum ada keterangan resmi yang diperoleh awak media ini, pihak polsek Bantimurung pun masi menyelidiki penyebab kebakaran yang hanguskan rumah di Dusun Gollae…(*).

Lp. Hamzah W

RSUD Siwa Kebanjiran, Danyon C Pelopor Bone Terjunkan Tim SAR Bersikan Evakuasi Pasien

NEWSSULSEL.id, WAJO – Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan dilanda banjir sejak Jumat (3 Mei 2024) pukul 03.03 Wita.

Sejumlah rumah masyarakat terendam. Termasuk fasilitas umum, seperti rumah sakit Siwa di Jl. Andi Djaja Kecamatan Pitimpanua ikut kebanjiran.

Menyikapi kondisi tersebut, Komandan Batalyon (Danyon) C Pelopor Satbrimob Polda Sulsel, Kompol Nur Ichsan, S.Sos., M.Si menerjunkan Tim SAR ke lokasi banjir.

Kejadian ini dipicu oleh hujan deras yang berlangsung sejak dini hari waktu Indonesia bagian tengah.

Tiga kecamatan terdampak antara lain Kecamatan Keera, Kecamatan Pitumpanua, dan Kecamatan Tempe.

Ketinggian air berkisar antara 30 sentimeter sampai dengan 3 meter.

“Tim SAR Batalyon C Pelopor ke lokasi banjir untuk membantu masyarakat yang membutuhkan bantuan,” kata Danyon Ichsan, Sabtu (4 Mei 2024).

Hadirnya Tim SAR Batalyon C Pelopor ini, kata Danyon bergelar Magister Sains adalah sebagai Bhakti Brimob kepada masyarakat.

“Pagi tadi tim SAR melaksanakan pencarian terhadap Ambo Ala (60) yang diduga hilang akibat banjir dan evakuasi terhadap masyarakat di Kelurahan Benteng Kecamatan Pitumpanua menuju posko terpadu bencana serta pembersihan RSUD Siwa yang terendam lumpur akbat banjir,” imbuhnya.

Sementara itu, Ipda Junaede, Komandan Tim SAR Batalyon C Pelopor mengungkapkan, Rumah Sakit Umum Daerah Siwa, dalam kondisi hampir lumpuh total.

“Untuk sekarang kami sedang melaksanakan pembersihan, pasien rawat inap diungsikan ke lantai dua gedung, untuk saat ini pembersihan dilakukan di IGD, kamar operasi dan kamar perawatan,” beber Junaede.

Adapun personel gabungan yang terlibat diantaranya Brimob Batalyon C Pelopor, BPBD, Damkar Kabupaten Wajo, Polsek dan Koramil Pitumpanua…(*)

 

Lp. Hamzah War

Agama Kasih Sayang

Faisal Djabbar , Seorang Pembelajar

Saya punya seorang kawan imajiner. Namanya Muhamad. Nama itu, konon, diberikan orangtuanya supaya dia punya perilaku layaknya Nabi Muhammad. Apakah harapan orangtuanya terpenuhi, hanya Muhamad yang tahu. Tapi, yang pasti, katanya, dia bilang dia sedang berproses: untuk menjadi Muhamad; untuk menjadi manusia.

 

Muhamad beragama Islam. “Agama Islam kultural”, begitu katanya berseloroh. Dia mengatakan, dirinya beragama Islam karena orangtuanya juga beragama Islam. Tetapi, meski secara formal Muhamad beragama Islam, dia tidak mau terkungkung dalam atap ajaran agamanya semata. Dia ingin lebih dari itu. Dia berhasrat menyelami hakikat ajaran agama lain: Katolik, Kristen, Budha, Hindu, dan lainnya.

 

Bagi rekan saya Muhamad ini, agama haruslah berkutat dalam persoalan-persoalan spiritualitas dan nilai-nilai kemanusiaan, bukan sekadar berfokus total pada ritualisme. Menurut Muhamad, agama yang melulu berkonsentrasi pada ritualisme hanya akan membuat penganutnya jatuh pada dogmatisme. Dogmatisme membikin pemeluk agama enggan melihat kebenaran di luar agamanya. Akibatnya, sikap ini berpotensi menimbulkan pertikaian mengatasnamakan kebenaran agamanya masing-masing. Walaupun memang belum tentu dogmatisme akan otomatis mengakibatkan pertikaian antarumat beragama, tapi minimal bisa terbangun dinding kokoh nan tinggi yang membatasi pertukaran kebajikan antarajaran agama.

 

Muhamad bertanya: apakah sesungguhnya yang diharapkan seorang pemeluk agama dari ritual-ritual agama yang dia kerjakan? Surga? Harta?

 

Bagi saya, pertanyaan Muhamad di atas akan sulit dijawab apabila kita belum memiliki orientasi yang tepat mengenai mengapa kita melaksanakan ritual-ritual agama.

 

Sebagian orang mungkin akan menjawab: “saya beribadah supaya dapat pahala dari Tuhan”. Lalu, barangkali, ada pula yang mengatakan: “saya takut neraka, karena itu saya beribadah”. Yang lain bisa jadi akan menjawab: “saya salat supaya Tuhan menurunkan rezekinya pada saya agar saya bisa punya mobil, jabatan tinggi, dan rumah mewah”.

 

Jawaban-jawaban tadi tidak keliru, tapi juga tidak tepat. Bagi Muhamad, jawaban-jawaban di atas amat bersifat materialistik. Sepertinya Tuhan cuma bisa disogok dengan salat atau ibadah ritual lainnya. Sepertinya Tuhan dipaksa harus ikut kemauan mereka.

 

Saya teringat ucapan imam Ali bin Abi Thalib. Menurutnya, ada tiga golongan manusia ketika mereka melakukan kegiatan ritual ibadahnya.

 

Golongan pertama adalah golongan para budak. Logika budak adalah adanya tuan dan abdi. Ada yang menganiaya dan ada yang teraniaya. Pemeluk agama golongan pertama ini beribadah karena takut azab Tuhan. Mereka takut neraka. Bagi golongan pertama ini Tuhan adalah tuan, yang bisa saja menghukum bila mereka, para budak, tidak beribadah. Jadi, salat atau ibadah ritual lainnya hanya dilakukan karena ketakutan akan sebuah hukuman Tuhan.

 

Golongan kedua adalah golongan para pedagang. Layaknya seorang pedagang, segalanya dilihat dari perspektif takaran untung-rugi. Semuanya dihitung laba-ruginya. Apa yang saya berikan harus saya peroleh kembali dengan sesuatu yang lebih banyak dari apa yang telah saya investasikan. Di sini berlaku prinsip bisnis. Dengan demikian, ketika para pemeluk agama ini beribadah, mereka mengharapkan Tuhan memberikan mereka mobil, rumah, jabatan, dan harta lainnya. Tujuan ibadah bukan Tuhan, melainkan materi.

 

Golongan ketiga adalah golongan pecinta. Manusia golongan ini telah sampai pada sebuah sikap kecintaan pada Tuhan. Tuhan bersemayam dalam pikiran, hati, dan tindakan mereka. Para pemeluk agama golongan ini tak lagi mengharapkan surga atau takut neraka. Mereka tak merisaukan harta melimpah. Salatnya bukan karena harapan-harapan duniawi. Mereka beribadah untuk ibadah. Demi sebuah kecintaan pada Tuhan. Tuhan adalah kekasihnya. Mereka bersatu dalam Tuhan. Bagi mereka, kelezatan ibadah di dalam Tuhan merupakan kelezatan tiada banding.

 

Muhamad berjuang agar bisa masuk golongan pecinta. Muhamad sangat ingin bersua Tuhan. Tuhan adalah pusat segala ajaran agama, sehingga manusia mestinya saling memahami tanpa terperangkap dalam baju agamanya masing-masing. Bahkan, manusia seyogianya saling berdamai tanpa pretensi kesukuan atau kepentingan kelompoknya: cinta tanpa ambisi, cinta tanpa keinginan, cinta tulus di bawah atap ketuhanan.

 

Muhamad ingin bebas dari sifat kemutlakan doktrin agama. Baginya, semua manusia harus dipandang setara di hadapan Tuhan, apa pun agamanya. Kebenaran agama adalah kebenaran yang relatif. Bagi Muhamad, di dunia ini tak ada kebenaran absolut, karena, pada dasarnya, kebenaran di dunia adalah kebenaran yang dibangun di atas pendapat sebuah kelompok tertentu, sehingga amat sangat relatif terhadap pendapat kelompok lainnya. Sebuah kelompok pasti memiliki standar kebenarannya masing-masing.

 

Singkatnya, bagi Muhamad, di atas bumi ini kebenaran akan selalu relatif. Kebenaran absolut hanyalah Tuhan. Karena itu, mengatakan bahwa satu kelompok atau satu agama tertentu sesat adalah sebuah pendapat yang naif. Seseorang tentu mempunyai konstruksi pemikirannya sendiri mengenai kebenaran, yang bisa saja berbeda dengan bangunan kebenaran yang dimiliki orang lain. Dan, perbedaan konstruksi pemikiran semacam itu wajiblah dihormati. Komunikasi akan terjalin baik ketika pihak-pihak yang ada di dalamnya saling menghormati dan memahami perbedaan sudut pandang masing-masing.

 

Agama Muhamad adalah agama kasih sayang. Agama kasih sayang adalah agama yang mengajarkan nilai-nilai universal kemanusiaan: cinta, kasih sayang, akhlak baik. Agama kasih sayang adalah agama yang mengedepankan cinta damai antarpemeluk agama. Agama kasih sayang adalah agama yang tidak mengajarkan penegasian kebenaran di luar agamanya.

 

Semua pemeluk agama bersaudara. Lewat salah satu puisinya, Agama Kemesraan, Emha Ainun Nadjib menulis syair berikut:

 

Siapa kau?

Namamu apa, kubumu yang mana

Berasal dari rumah nun di sana dan pilihanmu beda

Tak apa. Aku sedang belajar berhati dewasa

 

Kau tetap saudaraku jua

Kuajak kau membawa kembang cinta

Kita coba terus gandeng tangan dan nyanyi bersama

Coba kita temukan setiap sudut kebusukan

Kemudian kita taburkan padanya wewangian

 

Hidup sangat ruwet, tapi mungkin juga bersahaja

Kumohon saling kita setorkan kasih sayang

Bertahan dari kelakuan politik dan perebutan

Bersama menegakkan agama kemesraan

 

Cak Nun, melalui puisinya di atas, mencoba meneriakkan satu pandangan bahwa perbedaan adalah hal lumrah. Perbedaan adalah sesuatu yang alamiah. Justru, perbedaanlah yang akan mendewasakan kita bersama. Orang lain yang beda agama atau beda prinsip atau beda budaya adalah saudara kita juga. Perbedaan seyogianya dilihat dari perspektif cinta, kasih sayang, dan kemesraan.

 

Sekadar mengulang: kebenaran di dunia relatif, kebenaran absolut hanyalah Tuhan. Kita, manusia, tidak mengetahui secara pasti kebenaran yang ada dalam benak Tuhan. Oleh sebab itu, penghargaan terhadap pendapat orang lain atau agama lain menjadi sebuah keniscayaan. Dengan lain kata, mengatakan sesat pada suatu ajaran atau agama lain, hanya karena berbeda pendapat, bukanlah perbuatan bijaksana. Hal seperti itu tak bisa ditolerir.

 

Biarkanlah semua agama atau ajaran berkembang dengan tuntas dan wajar. Bukankah semua ajaran dan agama mengajarkan ketundukan pada Tuhan? Bukankah semua agama mengajarkan cinta kasih? Bukankah semua agama menganjurkan kasih sayang?

 

Nilai-nilai kasih sayang sebuah agama diperoleh dari penghayatan makna spiritualitas agama itu sendiri. Pemaknaan spiritualitas agama menjadikan manusia memandang Tuhan sebagai Sang Kekasih. Dan, pengalaman spiritualitas itu membuat seseorang berlaku cinta kasih terhadap orang lain, baik sama atau beda agama. Dalam spiritualitas agama, Tuhan akan terasa Maha Lembut dan Maha Penyayang; bukan Tuhan sebagai Pemarah, Pengadil, dan Pembenci.

 

Tuhan bukanlah radio, yang kita nyalakan ketika kita butuh suara musik merdu. Manusia seringkali menjadi pengemis di depan Tuhan. Mereka berdoa hanya untuk minta jodoh, pangkat, kelancaran bisnis. Manusia menyogok Tuhan agar Dia mau tunduk pada hukum permintaan manusia. Padahal, menurut saya, tanpa permintaan dan permohonan manusia, Tuhan tetap Maha Pengasih. Siapa pun dikasih. Tuhan tetap Maha Pecinta. Siapa pun dicinta.